0

Leave Your Stresses to A Large Sketchbook

image

Libur panjang semester kedua, ayah ngasih buku sketsa gambar yang lumayan gede secara tiba-tiba.

Sebelum aku tanya, “Kenapa dan untuk apa?”, Bunda langsung bilang,

“Gambar-gambar ya Kak, bikin sketsa atau kartun begitu di bukunya.”

O-oke, mungkin aku memang punya hobi yang sudah biasa aku lakukan sejak dari aku SD dulu yaitu menggambar random wajahă…ˇhanya wajahă…ˇala-ala anime dimana pun. Iya, dimana pun. Di kertas HVS polos, di buku gambar, di buku tulis, di buku pelajaran, di kertas soal UAS, UN, dan lainnya, bahkan di tubuhku sendiri. Tapi serius deh, aku jarang gambar tokoh anime dengan anatomi tubuh lengkap dari kepala sampe kaki, karena yang biasa aku gambar itu cuman mata, paling-paling sama wajah dan rambut doang. Menggambar tokoh dengan lengkap itu jaraaaaaang banget aku lakuin. Dan lagi, gambarku enggak bagus-bagus amat. Coba-coba gambar komik-komikan waktu jaman SD sekali pun enggak pernah bisa bikin sampe kelar (karena males, LOL).

Jadi, sempet agak bingung sewaktu dikasih buku sketsa segede itu. Mau diapain, nih? Mubazir dong, kalo enggak dipake untuk apa-apa. Beli buku sketsa tahun-tahun dulu yang sizenya kecil aja, halaman yang diisi cuman sedikit. Walau rasanya tangan sudah gatal mau mencorat-coret buku sketsa itu dengan gambar-gambar masterpiece seperti yang ada di manhwa lookism atau kayak gambar-gambar kak Felicia Huang yang detail dan rapi, tetep aja, faktanya bahkan gambarku ga lebih luwes daripada komik-komik strip lucu karyanya Tahilalats. Ah… kalo aja punya kekuatan super, pengen deh rasanya mencuri talent mereka semua para author kreatif dan berbakat itu, LOL.

Akhirnya, buku sketsa itu nganggur nyaris sebulan di meja kamar. Kertas-kertasnya masih polos, putih bersih. Berani mencoret pake pensil H pun enggak (soalnya emang enggak punya). Sempet kepikiran, ah, paling-paling juga bakal enggak diisi sampe naik ke kelas 12. Tapi rupanya, enggak sampe beberapa hari, aku iseng berniat membuat sketsa wajah Youngjae dari poster B.A.P di kamar yang lagi-lagi enggak selesai. Aku baru bikin muka Youngjae dan langsung berhenti disitu karena kehilangan mood. Karya seperempat jadi.

Suatu hari, kebetulan aku punya something yang aku rasain selama berhari-hari-hari-hari-hari. Yang lama kelamaan bikin aku stress. Sampe nangis. Entah kenapa di waktu aku nangis, tanganku langsung refleks mengambil salah satu kelir pensil yang bahkan aku gak tau warnanya apa karena lampu kamar aku matikan dan otomatis membuat kamar aku gelap, dan membuka halaman pertama buku sketsa gede itu.

Kemudian menulis apa yang aku rasakan. Semuanya nonsense, tapi apa yang ada di benakku, kutumpahkan semuanya disana. Keadaan kamar yang gelap malah secara enggak langsung membuatku nyamană…ˇwalau aku enggak bisa lihat hasil tulisanku karena keadaan tersebut. Plus, air mataku juga ikut tumpah disana, yang tentu saja bekasnya gak akan keliatan lagi, LOL.

Aku menulis kalimat-kalimat nonsense dan menimpanya dengan kalimat lain, terus-terusan begitu, tidak rapi, jelas kelihatan abstrak, bahkan cukup sulit untuk dibaca ulang. Butuh sekitar sepuluh menit sampe ‘karya’ itu selesai kubuat. Amarahku lumayan mereda, tangisan juga terhenti.

Aku punya kepribadian yang cukup tertutup, tidak menceritakan masalah kepada semua orang. Tidak menjerit-jerit saat sedang stress. Tidak mendesis saat menangis. Membisu saat ditanya. Tidak bisa marah kepada orang yang memang sebenarnya berlaku salah. Imbasnya, semua itu aku tumpahkan secara tidak sengaja kepada orang lain.

Aku cukup introvert. Orang-orang melihatku dari luar sebagai pribadi yang ceria, cerewet, heboh, kadang menyebalkan, juga agak temperamental. Walau sebenarnya aku ini cengeng, sensitif dan mudah iba, tidak banyak orang yang tahu soal itu. Aku gak begitu suka menangis di depan orang lain, lebih memilih untuk menangis di pundak sahabat-sahabat terdekat saja. Dengan alasan tidak ingin terlihat menyedihkan di hadapan orang-orang dan tidak mau merepotkan keluarga. Cukup disimpan sendiri, kalau pun mau ditumpahkan, hanya memberitahu beberapa orang yang bahkan masih bisa dihitung pakai jari jumlahnya.

Untuk orang-orang yang mudah stress sepertiku dan tidak mudah untuk menceritakan kondisi hati sendiri ini, sangat disarankan untuk melakukan hal tersebut. Menuliskan kekesalan dan amarah di kertas putih polos yang besar. Tulis semuanya. Corat-coret kasar kertas besar itu bila perlu. Bila dilakukan di tempat yang gelap, malah lebih asyik lagi, loh (LOL).

Aku pernah mendengar kalau rasa stress pun bisa lebih baik disalurkan dengan hal tersebut dan akan lebih baik lagi bila hasil ‘karya’ yang penuh emosi itu segera dibakar. Secara tidak langsung membuat rasa amarah yang meluap dihati ikut terbakar, hancur lalu hilang.

Lalu, bagaimana kalau kertasnya sudah dibakar dan amarah di hati masih juga belum mereda?

Well, aku juga punya trik versi diriku sendiri yang lain, walau sebenarnya terdengar agak klise. Yaitu dengan menggambar sketsa pohon beserta pemandangan sebagai latarnya. Bagus atau tidaknya, itu belakangan. Karena menurut apa yang aku rasakan, menggambar pohon juga pemandangan alam bisa membuat hati lebih teduh.

Ditutup dengan cara paling ampuh; membaca Al-Quran. Dari semua cara di atas, jelas yang satu ini lah yang paling ampuh. Berkomunikasi dengan Yang Maha membolak-balikkan hati, meminta petunjuk dan pertolonganNya, bisa membuat hati menjadi lebih teduh dan beban berat yang kita bawa Insyaallah menjadi lebih ringan dirasa. 🙂

Yah, pada akhirnya, buku sketsaku pun sudah mendapatkan tugasnya dan aku sudah memfungsikan buku sketsa ini dengan baik. XD

Rgrd,
ă…ˇJasmine Rahmatusyifa

Iklan